![]() |
| Yorrys Raweyai soroti harga lahan Rp300 per meter persegi untuk lahan PSN di Merauke |
Jakarta - Wakil Ketua DPD RI, Yorrys Raweyai, kembali menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional di Merauke, Papua Selatan. Proyek yang membuka 2,5 juta hektar lahan untuk padi dan tebu itu dinilainya minim transparansi, terutama soal nasib kayu dari penebangan hutan.
“Kalau dibuka untuk padi dan tebu, pertanyaannya: hutan-hutan itu dihabiskan ke mana? Pasti ada penebangan, ada pembukaan lahan besar-besaran, tapi ke mana hasil kayunya? Tidak ada kejelasan,” katanya.
Yang paling disayangkan Yorrys adalah besaran ganti rugi lahan untuk warga setempat yang hanya Rp300.000 per hektar.
“Kita terima laporan soal harga itu. Ini keliru besar. Seharusnya warga dijadikan mitra, ada rasa memiliki bersama. Bukan sekadar dibayar murah lalu selesai. Itu tidak manusiawi,” tegas Yorrys.
Pernyataan itu disampaikan Yorrys sebelum Forum Group Discussion bertajuk “Terjebak di Antara Dua Senjata: Eksploitasi Sipil dan Ruang Hidup Papua di Bawah Bayang-bayang PSN” di The Acacia Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (26/5/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Yorrys juga menanggapi viralnya film dokumenter ‘Pesta Babi’. Menurutnya, isi film adalah kritik terhadap kerusakan hutan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Papua.
“Sebenarnya begini, kalau Anda menonton, jangan lihat judulnya ya. Kalau judul memang terkesan lain. Tapi kalau ditonton secara keseluruhan, ini menjelaskan masalah pengrusakan hutan di seluruh Indonesia, bukan cuma di Papua,” tegasnya.
Yorrys menilai reaksi berlebihan dari aparat yang mempertanyakan izin dan sumber dana justru membuat film itu makin dikenal luas.
“Ini strategi produser yang menurut saya hebat. Cuma karena ditanggapi berlebihan, ditanya siapa yang biayai dan sebagainya, akhirnya semua orang jadi tahu, malah makin viral ke mana-mana,” ujarnya sambil tersenyum.
Soal isu pelarangan, Yorrys mengaku sudah mengecek langsung ke Kemenko Polhukam. “Secara resmi tidak ada larangan. Kalau ada pengecekan, itu mungkin inisiatif anggota di lapangan saja,” jelasnya. Red
Email admin@yapekopa.org