Tidak Ada Untung Dalam Perang Suku, Hanya Kuburan Baru di Tanah Leluhur Bangsa Papua


Minahasa, Rabu, 13 Mei 2026
Oleh Emil E Wakei (Dewan Jalanan)


Di Lembah Baliem, Beberapa tahun terakhir, Tangisan bercampur darah sesama manusia Papua terus mengalir, Asap honai yang dibakar dan teriakan perang. Wamena yang sejuk berubah panas oleh dendam. Anak panah yang dulu untuk berburu babi kini diarahkan ke dada saudara sendiri. Dan setiap kali itu terjadi, kita kalah. Bukan kalah perang, tapi kalah sebagai manusia Papua.

Perang suku adalah matematika yang paling kejam karena hasilnya selalu darah Sesama. Kita bisa menghitungnya dengan jari yang gemetar. Februari 2023 di Sinakma, sepuluh nyawa melayang hanya karena salah paham soal isu penculikan anak dari media sosial. Ada mama Papua yang dibunuh, ada anak Papua yang ditembak di kepala dan leher. Juli 2025 di jembatan gantung Wesaput-Minimo, dua kelompok baku panah di atas sungai yang mengayun, dipicu seorang warga yang hilang. Januari 2026, Pasar Misi lumpuh dan lima orang kena panah karena sengketa adat Rp20M yang tak selesai. Oktober 2024, lima warga tewas dan honai-honai hangus jadi arang karena masalah rumah tangga yang melebar.

Coba sebut satu untung dari semua itu. Tidak ada. Yang ada hanya daftar kehilangan. Honai yang dibakar harus dibangun lagi dengan kayu yang ditebang sambil menangis. Kebun ditinggal karena takut melintas batas. Anak-anak berhenti sekolah karena trauma dengar teriakan massa. Mama-mama mengungsi ke gereja dan tidur beralaskan tikar di pengungsian. Luka panah di betis, di punggung, di kepala, tidak sembuh dalam seminggu. Ia tinggal di tubuh dan di ingatan seumur hidup.

Yang paling perih: yang kita kubur adalah orang kita sendiri. Dani lawan Lani, Nduga lawan Lanny Jaya, Yalengga lawan Libarek. Nama suku boleh beda, tapi darah yang tumpah warnanya sama. Air mata yang jatuh rasanya sama. Sejarah yang kita pikul juga sama. Kita ini satu bangsa Papua yang sudah lama memikul sejarah penindasan, pengabaian, dan keterlantaran. Tanah ini kaya, tapi manusianya sering merasa miskin dan tidak didengar. Lalu di tengah luka lama itu, kita tambah luka baru dengan tangan sendiri.

Banyak yang bilang ini skenario. Ada yang menuduh pembiaran agar orang Papua habis baku bunuh. Benar atau tidak, kita tidak perlu menunggu jawaban dari luar. Cukup lihat hasilnya: setiap kali perang suku pecah, yang bertambah hanya kuburan baru di tanah leluhur. Sementara masalah besar kita tetap di situ. Jalan masih rusak, guru masih kurang, harga barang mahal, anak muda menganggur. Energi kita habis untuk saling mengintai, bukan untuk saling membangun. Kalau terus begini, kita tidak sedang berperang melawan siapa-siapa. Kita sedang bunuh diri pelan-pelan sebagai satu bangsa.

Karena itu harus berhenti. Dan berhentinya tidak bisa ditunggu dari langit. Harus dimulai dari kita di honai, di gereja, di jalan kampung.

Pertama, kembalikan telinga untuk mendengar sebelum tangan mengangkat panah. Hampir semua perang suku di Wamena meledak karena isu yang belum jelas. Penculikan anak, orang hilang, sengketa batas, masalah adat. Semua itu bisa diredam kalau tokoh adat, pendeta, dan pemuda duduk cepat dalam satu lingkaran. ketika dua suku yang bertikai dipertemukan di Honai adat, perang berhenti. Artinya kita punya obat. Obatnya adalah musyawarah yang jujur dan cepat.

Kedua, lawan provokasi dengan akal sehat. Hari ini satu pesan WhatsApp bisa membakar satu distrik. Maka setiap kampung butuh anak muda yang berani bilang "tunggu dulu, cek dulu". Sebelum bakar honai milik tetangga, tanya ke kepala suku. Sebelum angkat parang karena dengar kabar. Lebih baik dicap pengecut sehari daripada jadi pembunuh seumur hidup.

Ketiga, ingat musuh kita yang sebenarnya. Musuh kita bukan saudara dari lembah sebelah. Musuh kita adalah sistem penjajahan yang membuat anak putus sekolah. Musuh kita adalah keterlantaran yang membuat mama harus jalan jauh untuk berobat. Musuh kita adalah masa depan yang suram kalau kita terus baku habis. Tenaga untuk perang suku itu tenaga yang besar. Kalau dipakai untuk berkebun bersama, untuk jaga keamanan kampung bersama, Wamena bisa jadi contoh damai untuk seluruh Papua.

Keempat, rangkul anak muda. Mereka yang paling cepat pegang panah karena darahnya masih panas. Tapi mereka juga yang paling tulus kalau diajak bicara dari hati ke hati. Kasih mereka ruang di olahraga, musik, kerja bakti antar suku. Ajak mereka jadi penjaga perdamaian, bukan pasukan perang. Karena masa depan Papua ada di pundak mereka, bukan di ujung anak panah mereka.

Saudaraku, tanah leluhur ini sudah terlalu banyak menelan mayat anaknya sendiri. Setiap kuburan baru adalah satu tiang rumah besar Papua yang patah. Kalau semua tiang patah, rumah ini roboh. Lalu siapa yang akan kita salahkan?

Tidak ada untung dalam perang suku. Tidak ada kehormatan dalam membunuh saudara. Yang ada hanya penyesalan, hanya kuburan, hanya mama yang meratap tanpa suara.

Mari letakkan panah. Mari angkat suara damai. Baku jaga, baku sayang, baku lindung. Karena kita orang Papua. Dan hanya kita yang bisa selamatkan Papua dari kita sendiri.

Posting Komentar

Formulir Kontak