![]() |
| Kampanye Akbar Partai NasDem |
Timika — Pemda Mimika diminta untuk memberikan perlindungan terhadap pekerja Orang Asli Papua (OAP). Hal tersebut ditegaskan Aser Gobai usai lawatannya bersama warga di daerah pemilihannya yakni Dapil III, Jumat 24 April 2026.
"Pemda Mimika dalam hal ini Bupati harus beri perlindungan khusus terhadap pekerja Orang Asli Papua yang bekerja di dalam wilayah Freeport," tegasnya.
Bukan tanpa sebab, ia menegaskan hal tersebut berangkat dari wacana manajemen PT Freeport Indonesia yang berencana menerapkan jadwal kerja gilir karyawan dengan skema 6 hari kerja dan 1 hari istirahat (day off) atau yang biasa dikenal dengan sebutan jadwal kerja 6-1.
"Keluarga pekerja yang ada di Timika merasa resah dengan schedule ini (jadwal 6-1)," tegasnya.
Keluarga pekerja, katanya lagi, merasa keberatan karena waktu mereka untuk berkumpul bersama keluarga jadi berkurang dan terancam akan hilang.
"Ada istri-istri, anak-anak dan para orang tua yang menunggu suami, bapak, dan anak mereka untuk schedule off di Timika," katanya.
"Tetapi kesempatan bertemu dan berkumpul bersama keluarga setiap minggu menjadi terancam hilang akibat dari kebijakan perusahaan yang tidak manusiawi ini," tegasnya.
Teruntuk hal tersebut Aser meminta kepada Pemda untuk memanggil manajemen PT Freeport Indonesia.
"Dan Bupati harus beri ketegasan demi perlindungan dan keharmonisan keluarga pekerja baik yang OAP dan non-OAP terutama mereka yang punya keluarga di Timika," pintanya.
Aser juga mendorong agar Pemda Mimika mengutamakan Pencaker OAP dan yang berdomisili di Timika maupun di seluruh Papua untuk mendapatkan pekerjaan.
"Jangan Pemda [Mimika] korbankan tenaga kerja dan angkatan kerja lokal dengan membiarkan begitu saja perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Timika merekrut pekerja dari luar Timika dan Papua keseluruhan hanya karena diamnya Pemda," tegasnya.
Diketahui, beberapa waktu lalu beredar informasi terkait rencana pemerataan schedule kerja seluruh karyawan yang bekerja dalam area freeport, baik yang bekerja pada bagian vital perusahaan maupun karyawan bagian administrasi.
Freeport berencana menerapkan kerja gilir dengan jadwal kerja 6 hari kerja dan 1 hari istirahat. Dan ini berlaku baik untuk karyawan yang kerja pagi hingga sore hari dan kerja malam sampai pagi hari.
Tidak hanya itu, dari informasi yang kami himpun dari karyawan yang bekerja di area freeport itu sendiri, ada perusahaan kontraktor di wilayah underground yang sudah menerapkan jadwal kerja 6-1 selama beberapa bulan ini.
Menurut sumber kami, manajemen freeport tidak keberatan dengan jadwal kerja dimaksud bahkan ada kesan mendukung, meskipun penerapannya akan berdampak terhadap kesehatan pekerja itu sendiri.
Pekerja-pekerja ini tidak hanya diberikan jadwal kerja 6-1, tetapi juga menerapkan jadwal ini untuk pekerja yang hanya bekerja pada malam hari.
"Jadi dong (karyawan yang dikenai schedule 6-1) hanya kerja malam saja dengan schedule 6-1 ini, dan itu sudah berjalan berminggu-minggu bahkan mungkin sudah lebih dari dua bulan," jelas sumber yang tidak kami sebut namanya demi menjaga kenyamanannya di tempat kerja. Mrk
