Perang Suku di Papua: Tidak Ada Untung, Hanya Kuburan Baru

perang-antarsuku-di-wamena-papua
Perang antarsuku dan kelompok di Papua

Wamena, yapekopa.org — Konflik antarsuku yang masih terjadi di wilayah Papua, khususnya Lembah Baliem, dinilai tidak membawa keuntungan apa pun selain korban jiwa dan kerusakan sosial. Seruan untuk menghentikan kekerasan antarsaudara disampaikan oleh Emil E Wakei, anggota Dewan Jalanan, dalam sebuah tulisan opini yang beredar di Wamena pada Rabu, 13 Mei 2026.

Dalam tulisannya, Emil menyoroti rentetan konflik yang terjadi sejak 2023 hingga 2026 di wilayah Wamena dan sekitarnya. Ia mencatat sejumlah insiden yang berujung pada jatuhnya korban jiwa, pembakaran honai, dan lumpuhnya aktivitas warga.

“Februari 2023 di Sinakma, sepuluh nyawa melayang hanya karena salah paham soal isu penculikan anak dari media sosial. Juli 2025 di jembatan gantung Wesaput-Minimo, dua kelompok baku panah di atas sungai. Januari 2026, Pasar Misi lumpuh dan lima orang kena panah karena sengketa adat Rp20 miliar yang tak selesai,” tulis Emil.

Menurutnya, dampak dari konflik tersebut tidak hanya berupa korban meninggal, tetapi juga trauma berkepanjangan bagi anak-anak, terhentinya aktivitas sekolah, serta pengungsian warga ke gereja dan fasilitas umum. Ia menyebut honai yang dibakar harus dibangun kembali, sementara kebun dan ladang ditinggalkan karena warga takut melintas batas wilayah.

Emil menegaskan bahwa konflik antarsuku merupakan bentuk kerugian kolektif bagi masyarakat Papua. “Yang kita kubur adalah orang kita sendiri. Dani lawan Lani, Nduga lawan Lanny Jaya, Yalengga lawan Libarek. Nama suku boleh beda, tapi darah yang tumpah warnanya sama,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa energi masyarakat yang habis untuk konflik justru membuat persoalan mendasar di Papua seperti infrastruktur, pendidikan, dan ekonomi tidak terselesaikan.

Empat Poin Seruan Perdamaian

Dalam tulisannya, Emil mengajukan empat langkah untuk menghentikan siklus kekerasan:

1. Mengutamakan musyawarah adat

Ia menyebut hampir semua konflik di Wamena dipicu isu yang belum jelas, seperti penculikan anak, orang hilang, dan sengketa batas. Menurutnya, pertemuan cepat antara tokoh adat, pendeta, dan pemuda dapat meredam konflik sebelum meluas.

2. Menahan provokasi di media sosial

Emil meminta anak muda untuk memverifikasi informasi sebelum bertindak. “Sebelum bakar honai milik tetangga, tanya ke kepala suku. Lebih baik dicap pengecut sehari daripada jadi pembunuh seumur hidup,” tulisnya.

3. Mengidentifikasi musuh bersama

Ia menilai musuh sebenarnya bukan saudara dari lembah sebelah, melainkan keterlantaran, kemiskinan, dan putus sekolah. Energi yang dipakai untuk konflik dinilai lebih tepat diarahkan untuk pembangunan kampung.

4. Merangkul anak muda

Anak muda disebut sebagai kelompok yang paling rentan terlibat konflik, tetapi juga paling potensial menjadi penjaga perdamaian jika diberi ruang di bidang olahraga, seni, dan kerja bakti lintas suku.

“Tanah leluhur ini sudah terlalu banyak menelan mayat anaknya sendiri. Setiap kuburan baru adalah satu tiang rumah besar Papua yang patah. Kalau semua tiang patah, rumah ini roboh,” tulis Emil menutup seruannya.

Ia mengajak seluruh masyarakat Papua untuk meletakkan senjata tradisional dan mengutamakan dialog. “Baku jaga, baku sayang, baku lindung. Karena kita orang Papua. Dan hanya kita yang bisa selamatkan Papua dari kita sendiri,” pungkasnya. Red

Baca tulisan aslinya di sini: Tidak Ada Untung Dalam Perang Suku, Hanya Kuburan Baru di Tanah Leluhur Bangsa Papua


Email admin@yapekopa.org

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak