Subsidi untuk Siapa? Minyak Tanah Rakyat Timika Justru Dinikmati Pengecer Liar

Keluhan warga Timika soal kelangkaan minyak tanah
Keluhan warga Timika soal kelangkaan minyak tanah


Timika – Warga Timika kesulitan mendapatkan minyak tanah bersubsidi setelah muncul dugaan distributor resmi menjual pasokan ke pengecer liar dengan harga lebih mahal. Keluhan itu viral lewat unggahan anonim di grup Facebook “Forum Jual Beli di Timika,” Selasa 5/5/2026.

Dalam unggahan yang disukai 98 akun itu, warga menulis bahwa minyak tanah sebenarnya tidak langka. Namun di lapangan, distributor memilih menjual ke “Pengencer-pengecer liar di luar sana, jual dengan harga yg lebih mahal,” tegasnya.

Praktik itu membuat pengecer terpaksa menjual ke masyarakat dengan harga “kaya mau bunuh masyarakat.”

Akibatnya, banyak warga di sekitar lokasi distributor tak kebagian jatah.

“Area lokasinya para distributor ini banyak warganya tidak dapat minyak tanah karena si distributor ini mau makan untung yang banyak,” tulisnya.

Warga pengguna minyak tanah mengaku semakin susah karena harus bersaing dengan pengecer liar.

Penulis unggahan menilai kelangkaan tidak akan terjadi jika aturan ditegakkan.

Ia meminta dinas terkait BBM, khususnya minyak tanah dan solar, turun mengawasi.

“Kalau bisa, setiap kali minyak tanah di masukkan ke para distributor alangkah baiknya ada 1 atau 2 orang dari dinas terkait yang mengawasi saat pembagian,” tegasnya.

Warga yang belum sempat mengisi jeriken sudah harus pulang karena stok habis.

“Kasihan warga belum isi minyak tanah, datang lagi minyak sudah habis,” tulis akun itu disertai emoji sedih.

Praktik tersebut melanggar UU No. 22/2001 tentang Migas Pasal 55 yang mengancam penyelewengan BBM bersubsidi dengan 6 tahun penjara dan denda Rp60 miliar. Di tingkat pengecer, penjualan di atas HET melanggar Perpres No. 191/2014 serta UU Perlindungan Konsumen No. 8/1999 Pasal 8 jo 62 dengan ancaman 5 tahun penjara.

Hingga hari ini, Jumat 8/5/2026, Pertamina Patra Niaga dan Dinas terkait belum memberikan tanggapan. Padahal minyak tanah masih jadi bahan bakar utama dapur warga miskin Timika.

Kasus ini menambah daftar panjang kebocoran subsidi akibat lemahnya pengawasan di titik akhir distribusi. Red

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak