Orang Papua menjadi Pengungsi di Atas Tanah Papua

aser_gobai_gelar_reses_tahap_pertama
Anggota DPRD Kabupaten Mimika, Aser Gobai, S.T. Usai menggelar Reses Tahap Pertama pada Selasa 17 Maret 2026, Timika

Mimika — Aser Gobai, S.T. menggelar kegiatan Reses Tahap Pertama di Daerah Pemilihan (Dapil) III guna menyerap aspirasi serta berbagi kasih bersama warga, Selasa, 17 Maret 2026, Timika.

Kegiatan reses yang digelar Aser kali ini dihadiri juga oleh beberapa warga pengungsi dari kabupaten tetangga yang tinggal di dapilnya yakni Dapil III.

"Mereka ikut menyampaikan aspirasi dan keluhan, dan sebagai pegiat HAM juga saya harus mendengar keluh kesah mereka karena apa yang disampaikan berkaitan erat dengan hak mereka sebagai warga negara dan sebagai manusia," tuturnya.

Aser bercerita, ia merasa prihatin setelah mendengar berbagai keluhan dari para pengungsi, terutama ketika para pengungsi ini merasa tidak mendapat perhatian pemerintah.

Pemerintah, kata Aser, harus hadir di tengah-tengah pengungsi.

"Mereka (para pengungsi) tidak bisa diabaikan begitu saja oleh pemerintah, termasuk Pemda Mimika," kata Aser.

Menurutnya, ada peran dan tanggung jawab Pemda Mimika yang tidak berjalan di tengah-tengah warga pengungsi.

"Nantinya kita akan pastikan, apa saja tindakan Pemda Mimika sejauh ini khususnya terkait warga pengungsian," katanya.

"Apakah Pemda Mimika sudah melakukan pendataan dan identifikasi, dan menyediakan kebutuhan dasar untuk para pengungsi, akan kita pastikan nanti," sambungnya.

Tidak ada penetapan status bencana resmi, kata Aser, bukan alasan bagi Pemda Mimika untuk mengabaikan begitu saja setiap orang yang meninggalkan tempat tinggal asal mereka bukan atas kehendak sendiri.

"Hidup mereka ini terancam, makanya dengan terpaksa mereka harus melarikan diri," tegasnya.

Slogan 'Papua Tanah Damai' dan 'Papua Daerah Konflik', kata Aser, masih terus menjadi isu lama.

"Semua pihak masih terus sibuk membicarakan perang Amerika-Israel vs Iran yang berlangsung hari ini," kata Aser.

Sementara itu, dilanjutkannya, untuk kabar pengungsian dan konflik berkepanjangan di Papua tidak pernah menjadi hal-hal penting untuk dibicarakan.

"Kita terlalu sibuk membicarakan ketenangan dan kedamaian di tempat lain, dan itu membuat kita jadi lupa kalau ada pengungsi akibat konflik bersenjata di sekitar kita yang seharusnya bikin kita tidak rasa nyaman," tegasnya.

Aser meminta semua pemangku kepentingan untuk memulai membicarakan solusi permanen terkait penyelesaian konflik, agar tidak menimbulkan korban baru.

"Jangan lagi ada korban baik anak-anak, perempuan, perempuan hamil dan orang tua karena mereka yang paling rentan dalam semua peristiwa konflik," tuturnya. Stv

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak